Showing posts with label gudang ilmu. Show all posts
Showing posts with label gudang ilmu. Show all posts

Friday, 27 September 2013

Teknik Pertanian Aquaponik



Teknik aquaponik merupakan salah satu teknik resirkulasi yang berupaya menyiasati lahan pertanian yang semakin sempit dan adanya kelangkaan air, dengan cara memanfaatkan air kolam ikan untuk tanaman dan sebaliknya dari tanaman ke kolam ikan.
Para peneliti Jerman pernah sukses melakukan uji coba mengembangkan pertanian aquaponik yang nyaris tanpa emisi ini, yaitu sebuah pertanian tomat dengan budidaya ikan air tawar yang ekologis dan hemat air. Mereka menyebutnya proyek kolam ikan sebagai Aquakultur (budidaya ikan air tawar) sementara tanaman tomat dibudidayakan secara hydroponic, gabungan keduanya disebut aquaponik.
Dalam uji cobanya ikan air tawar memproduksi kotoran (mengandung nitrogen dan posfor) yang merupakan pupuk bagi tanaman tomat melalui pemanfaatan air limbah dari kolam sehingga kebutuhan air dan pupuk tidak lagi menjadi masalah. Namun sebelum air kolam yang mengandung pupuk tersebut mengairi tanaman tomat, airnya terlebih dahulu dibersihkan dalam sebuah tong yang bertujuan kotoran ikan yang mengandung amoniak mengalami oksidasi.Dengan bantuan oksigen dan bakteri, amoniak diubah menjadi nitrat (nitrifikasi sederhana).
Setelah dioksidasikan, barulah nitrat dari limbah kolam ikan dijadikan pupuk super tanaman tomat. Dosisnya dapat diatur menggunakan katup pengatur arus cairan pupuk. Prinsipnya kolam ikan memasok air serta bahan makanan bagi tomat dan tanaman tomat pada gilirannya juga menyumbangkan kualitas air bagi kolam ikan.
Dalam upaya mencoba teknik aquaponik ini ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan antara lain yaitu :
1) Jenis Ikan yang dipelihara, beberapa jenis ikan air tawar yang umumnya dapat dipelihara adalah ikan nila, patin, gurame, mas, lele dan ikan hias.
2) Jenis Tanaman, ada beberapa jenis tanaman yang sudah pernah dicoba dan berhasil cukup baik antara lain: kangkung, tomat, sawi dan fetchin atau pokchai . Karena media filter tidak menggunakan tanah maka agar tanaman dapat tumbuh baik perlu disemaikan dulu sampai bibit berumur 1-1,5 bulan baru siap dipindahkan pada sistem aquaponik dengan jarak tanam 40cm.
3) Kolam, wadah dan Media Tanam, kolam ikan perlu dilengkapi pembuangan air yang dapat menyedot kotoran ikan ataupun sisa pakan yang digunakan untuk dialirkan kedalam bak filter bisa berupa tong, ember plastik, papan kayu yang dibentuk menjadi seperti bak saluran air yang dilapisi plastik. Media tanam meliputi batu kerikil atau batu apung lebih dianjurkan untuk digunakan karena jika memakai tanah maka seringkali jalannya air lebih terhambat karena tanah-tanah halus juga ikut hanyut dan menyumbat lubang pengeluaran.
4) Sistem resirkulasi, ada dua alternatif yang pertama air kolam dialirkan menggunakan pompa air ke dalam bak filter/tong terlebih dahulu baru kemudian dialirkan ke wadan atau media tanaman setelah itu baru kemudian kembali lagi ke dalam kolam ikan. Cara Kedua sistem resirkulasi ini adalah air kolam langsung dialirkan ke dalam wadah atau media tanaman yang berfungsi sebagai bak filter dan setelah itu kembali ke dalam kolam ikan.

Cara meningkatkan produksi gurami




 
 
 
 
Dengan sedikit kreatifitas kolam seluas 500 m2 itu biasanya ditebar 500 kg gurami seukuran bungkus rokok. Namun, Sujadi, peternak, melepaskan 900 kilogram gurami ukuran sama. Meski populasi meningkat 80%, Sujadi memanen sebulan lebih cepat. Ia mengangkat 2,7 ton, jauh lebih tinggi ketimbang biasanya yang cuma 1,5 ton.

Malam merayap di Desa Glempang, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, ketika Sujadi duduk di tepi kolam gurami. Ia tak sekadar menikmati embusan angin malam, tetapi mengamati gerakan puluhan Osphronemus gouramy seukuran telapak tangan di atas permukaan air. Kilat yang muncul tiba-tiba, menyebabkan anggota famili Anabantidae itu terkejut. Spontan kerumunan gurami itu bersembunyi di bawah permukaan air.

Oleh sebagian peternak, peristiwa itu mungkin dianggap biasa. Namun, tidak bagi Sujadi. Pria kelahiran 15 September 1954 menganalisis peristiwa itu. 'Mengapa gurami kaget ketika ada kilat? Karena gurami ada di permukaan air. Mengapa gurami ada di permukaan air? Oksigen terlarut mungkin rendah,' paparnya berargumentasi.

Benarkah dugaan mantan guru Agama di SD Karangkemiri V, Cilacap, itu? Ketika diukur pada pukul 22.00 - 05.30, kadar oksigen di kolam Sujadi memang amat rendah, kurang dari 1,6 ppm. Pantas pada jam-jam itu gurami banyak yang nongol di permukaan air untuk menghirup oksigen. Kadar oksigen terlarut ideal bagi gurami 3,5 - 5 ppm. Tipisnya kadar oksigen pada malam hingga pagi menyebabkan gurami rentan stres akibat munculnya kilat. Untuk mengatasinya, pasokan oksigen mesti ditingkatkan.
Teknologi oksigenisasi meningkatkan populasi gurame
Tiga tahun lalu Sujadi menerapkan solusi itu: membeli sebuah mesin pengisap udara. Sebuah mesin dimanfaatkan untuk memasok oksigen 3 kolam: 2 kolam seluas 500 m2 dan sebuah kolam 465 m2. Dari 45 kolam miliknya, hanya 3 kolam yang dijadikan eksperimen. Menurut Sujadi mesin itu sebetulnya mampu memasok 5 kolam. Dengan mengadopsi teknologi oksigenisasi, populasi kolam meningkat 80%.

Contoh, kolam 500 m2 ditebar 900 kg benih ukuran bungkus rokok. Atau sekilo terdiri atas 3 - 5 ekor. Lazimnya hanya 500 kg benih yang dilepas ke kolam seluas itu (lihat tabel). Kepadatan tebar mencapai 50 - 60 ekor per m2; sebelumnya, 25 - 30 ekor per m2. Benih yang ditebar berupa tampelan alias seukuran bungkus rokok, 1 kg terdiri atas 3 - 5 ekor. Peningkatan populasi itu diimbangi dengan adanya tambahan pasokan oksigen.

Mesin pemasok oksigen dihubungkan ke pipa PVC berdiameter 4 inci yang membujur di tepi kolam. Kemudian pipa disambungkan ke pipa lain yang lebih kecil, 0,5 inci. Di setiap kolam sepanjang 30 m ditanam 2 lajur pipa 0,5 inci (lihat infografis). Ukurannya sepanjang kolam. Agar tidak melengkung, setiap interval 1,5 meter pipa disangga sambungan T. Dari dasar kolam yang tak disemen, tinggi pipa 30 cm. Kedalaman kolam 1,7 meter.

Setiap interval 1 m, permukaan atas pipa dilubangi dengan diamater amat kecil. Tujuannya untuk menciptakan gelembung udara ketika mesin diaktifk an pada pukul 22.00 - 05.30 setiap hari selama pembesaran. Dari lubang di pipa 0,5 inci keluar gelembung-gelembung udara. Hasil pengukuran menunjukkan, kadar oksigen terlarut meningkat signifi kan, menjadi rata-rata 3,9 ppm.

Itu lebih dari sekadar cukup bagi kalua - sebutan gurami di Kalimantan - yang membutuhkan oksigen terlarut minimal 3 ppm. Penambahan udara itulah yang memungkinkan peningkatan populasi. Malahan waktu pembesaran 1 - 1,5 bulan lebih cepat daripada tanpa teknologi oksigenisasi.

Perhitungan Kubikasi kayu Log


Untuk bisa menghitung nilai ekonomis dari kayu yg pertama harus di ketahui terlebih dahulu adalah :

1. kubikasi kayu
2. harga terima pabrik

1. Rumus Menghitung Kubikasi Berdasarkan lingkar pohon

lingkar pohon : 100 cm
Tinggi batang utama * : 8 Meter

Rumus nya:
(100 cm :3.2) = 31.25 cm [ini adalah diameter pohon]
(31.25 : 100) : 2 = 0.15625
(0.15625 X 0.15625) x 3.14 X 8 = 0.613 m3

Jadi satu pohon dengan lingkar 100 cm dan Tinggi batang utama 8 meter akan menghasilkan sebanyak = 0.613 m3
 
Jika dalam satu hektar terdapat 2000 pohon siap panen dengan lingkar batang terkecil 100 cm dan terbesar 165 cm maka akan di dapat jumlah kubikasi minimal sebanyak = 1226 m3

kita sudah sedikit banyak mengerti bagaimana kita menghitung volume kayu yang dihasilkan oleh pohon. Sebanyak itukan kubikasi pohon dinilai? TIDAK, perlu diketahui oleh pemilik pohon dan investor di bidang perkebunan adalah cara grade dan cara hitung pabrik dalam membeli kayu.
Fakta 1 - Kayu dikelompokan berdasarkan GRADE.
Setiap Grade dalam kelas kayu tentunya akan mempengaruhi harga kayu, semakin besar Grade maka semakin tinggi nilai kayunya. Beberapa tingkat Grade yang umum digunakan dalam dunia industry perkayuan:
Grade 16 – 19, adalah kayu log dengan bontos kecil 16 – 19 cm
Grade 20 – 24, adalah kayu log dengan bontos kecil 20 – 24 cm
Grade 25 – 29, adalah kayu log dengan bontos kecil 25 – 29 cm
Grade 30 – 39, adalah kayu log dengan bontos kecil 30 – 39 cm
Grade 40 up, adalah kayu log dengan bontos kecil lebih besar dari 40 cm

Catatan : Saat kayu masih tersedia banyak dan berukuran besar, Grade 50 up masih banyak digunakan, seiring dengan semakin sedikitnya kayu yang berukuran 50 cm, maka Grade yang digunakan lebih sering hanya sampai Grade 40 up saja.
Fakta 2 – Perhitungan volume kayu log dihitung berdasarkan Diameter Bontos Kecil
Bontos Kecil adalah bagian diameter ukuran kecil dari sebuah log (gelondongan), simak gambar berikut ini:

Caption: Bontos Kecil pada gambar diatas adalah yang berukuran diameter 35,5 cm
Oleh sebab itu, perhitungan Volume Log Real akan berbeda dengan pola perhitungan pabrik, sehingga volumenya pun akan berkurang, contohnya sbb:

A. Volume Real Kayu Log

Diameter dihitung (d) = (38+35,5) / 2 = 73,5 / 2 = 36,75
Volume Log = ∏ r2 p = 3,14 x (36,75/2)2 x 260
Volume Log = 275.649 cm3 = 0,275 m3

B. Volume Kayu Log Dihitung Sesuai Grade Berdasarkan Bontos Kecil

Diameter dihitung (d) = 33,5 cm
Volume Log = ∏ r2 p = 3,14 x (35,5/2)2 x 260
Volume Log = 257.217 cm3 = 0,257 m3

2. Harga Terima Pabrik
Jika Harga terima kayu sengon laut saat ini untuk sortimen A3 dengan kelas Grade B sebesar Rp.625.000 / m3 maka nilai kayu tersebut diatas 1226 m3 jika di konversikan kedalam rupiah sebesar Rp. 735.600.000

klasifikasi log kayu berdasarkan sortimen nya di pabrik

A0 = 10 cm - 15 cm
A1 = 16 cm - 19 cm
A2 = 20 cm - 29 cm
A3 = 30 cm - 39 cm
A4 = 40 cm - 49 cm
dst...

Khusus kayu sengon harga terima pabrik hanya sampe A4..diatas itu akan di masukkan ke dalam harga A4.. dan hanya beberapa pabrik saja yg terima kayu dengan memberikan harga di atas A4..

Perhitungan diatas merupakan nilai terkecil untuk menghindari kesalahan perhitungan yg bisa berakibat fatal (rugi di kayu sengon gak nanggung). Kenapa ini merupakan perhitungan terkecil, berikut alasan nya:

1. Lingkar pohon yg di ambil dalam populasi 1 ha adalah yg paling kecil, misalkan dalah satu hektar sengon yg siap panen ada pohon yg memiliki lingkar batang 160 cm maka tetap akan di masukkan ke dalam perhitungan pohon terkecil dalam satu area lahan tersebut
2. Tinggi batang utama hanya di itung setinggi 8 meter, fakta di lapangan tinggi batang utama sengon berumur 5 thn keatas / yg siap panen bisa sampe 12 meter - 15 meter.
3. harga acuan pabrik yg diambil adalah harga terima pabrik untuk kayu kelas grade B / kelas terendah..sedang kan dalam tiap penebangan selalu ada kayu yg masuk ke dalam kelas super / Grade A
4. dahan atau batang pohon lain yg lebih kecil tidak di hitung, jika di paksa di itung pun dahan sengon yg siap panen masih bisa masuk itungan sortimen A0 - A1

Jadi dalam 1 Ha kebun sengon dengan populasi pohon sebanyak 2500 buah, dengan jarak tanam 2 m X 2 m, dengan tingkat penyusutan / pohon mati sebanyak 20% dalam periode 5 tahun dan dengan pemupukan serta perawatan yg maksimal akan menghasilkan nilai kurang lebih sebanyak Rp. 735.600.000